Jumat, 23 November 2012

Irvina Nur Rohim


Nama : Irvina Nur Rohim
Nama Cantik : Pedikulosis
EPISTAKSIS
Epistaksis atau perdarahan hidung sering ditemukan, dan 90 % dapat berhenti sendiri
Bukan suatu penyakit, melainkan sebagai gejala atau kelainan
Etiologi
Sering kali timbul secara spontan tanpa dapat ditelusuri penyebabnya
Penyebab
1.                  Trauma
Epistaksis dapat terjadi setelah trauma, seperti : bersin, mengeluarkan ingus dengan kuat, atau trauma yang lebih hebat, jatuh, kecelakaan dll
2.                  Infeksi
Infeksi hidung dan sinus paranasalis
Granuloma spesifik seperti lupus, sifilis, lepra
3.                  Neoplasma kardiovaskuler
Hemangioma, karasinoma, angiofibroma
4.                  Kelainan congenital
Teleangioktasis hemoragik herediter
5.                  Perubahan tekanan atmosfer
Calsson diseases (penyelam)
6.                  infeksi sistemik
Demam berdarah ,tifus,moirbuili,influenza
7.                  Gangguan endokrin
Wanita hamil,menarche,menopause
8.                  Penyakit kardiovaskuler
Hipertensi dan kelainan pembuluh darah seperti yang dijumpai pada arteriosklerosis, serosis hepatis,diabetes, sifilis
Patogenesis
Sumber perdarahan
Bagian anterior : pix kiesselbach, arteri etmidalis anterior
Bagian posterior : arteri sfenoplatina, arteri etmoidalis posterior
Epistaksis anterior sering pada anak-anak dan biasanya dapat berhenti sendiri, mudah diatasi
Epistaksis posterior sering ditemukan pada pasien hipertensi, arteriosklerosis. Meskipun sukar sumber perdarahan harus dicari . penyebab epistaksis juga harus dicari untuk mencegah kekambuhan
Pemeriksaan
1.                  Alat  : lampu, speculum hidung, alat penghisap
2.                  Anamnesis harus cermat
3.                  Keadaan umum, tensi nadi
4.                  Pemeriksaan darah lengkap, faal homeostasis
Penatalaksanaan
3 prinsip utama: menghentikan perdarahan, mencegah komplikasi, mencegah berulangnya  epistasis
Perbaiki keadaan umum pasien dulu, jika pasien syok
Menghentikan perdarahan
1.         Posisi pasien duduk atau berbaring dengan bantal di punggung, kecuali jika pasien sudah dalam keadaan syok
2.                  Sumber perdarahan dicari dengan bantuan alat penghisap
3.                  Tampon kapas yang telah dibasahi dengan adrenalin 1/10.000 dan lidocain atau pantocain 2 %
4.                  Tampon dibiarkan selama 3-5 menit
5.                  Periksa sumber perdarahan pada bagian anterior atau posterior

Komplikasi
1.           Komplikasi dapat sebagasi akibat langsung dari epistaksis atau dari tindakan penanggulangan epistaksis itu sendiri
2.                  Langsung : anemia, syok
3.                  Pemasangan tampon : sinusitis, otitis media
4.                  Hematotimpanum :  mengalirnya darah melalui tuba eustachius
5.                  Bloody tears : mengalirnya darah retrogard melalui duktus nasolakrinalis
6.                  Laserasi palatum mole dan sudut bibir pada pemasangan tampon posterior
    





Tidak ada komentar:

Posting Komentar